Selasa, 12 April 2011

Tentang Memilih Jalan Hidup

Suatu ketika seorang teman yang baik (caiah) bertanya padaku :


Teman : gak nyoba SNMPTN lagi Vic? Gak ngambil F*?

Aku : engga mas, disini aja.


Jadi, jaman dulu kala aku punya keinginan mengemban ilmu di F*.

Namun, banyak yang tak mendukung.

Hingga suatu ketika, aku memilih alternatif di fakultas tempat aku belajar sekarang.

:)


Lanjut ke percakapan =


Teman : kamu yakin?


Aku : yakin, ini sudah jalanku. Kalo ini sudah jalanku kenapa aku harus bikin jalan lain?


Nah, bermula dari jawaban tadi, temanku berpesan (bau bau petuah niih~ -.-‘)


Teman : hmmm, orang spiritualis emang jalan pikirannya kayak gitu. Misalnya dia dikasih sesuatu atau ditempatkan pada posisi tertentu dia akan nerima dan istilahnya mendalami apa yang udah dikasihkan ke dia.


Aku : *mangut-mangut


Teman : dia gak milih jalan lain di luar apa yang sedang dia jalani sekarang. Sekalipun ada banyak pilihan. Beda kan sama orang yang menggerutu dan berusaha buat keluar dari apa yang dia jalani? Nah, itu bedanya orang spiritual dan non-spiritual.


Aku : *baru nyadar kalo ternyata (cukup) spiritualis. Tapi mas, gimana kalo seumpama jalan yang dikasih itu sebenarnya bukanlah jalan yang patut diteruskan?


Teman : biasanya dikasih tanda-tanda pas dia ngejalaninnya.


Aku : *bingung. Maksudnya tanda-tanda?


Teman : ya, tanda-tanda kalo jalan yang dikasih itu memang jalan yang semestinya dijalani. Misalnya aja kamu ngerasa enak, nyaman, lancar trus pokoknya kamu merasa positif didalamnya.


Aku : *merenung


Teman : jadi, tahun ini kamu gak nyoba F*? SNMPTN lagi?


Aku : *mantap. Enggak mas. Ini udah jalanku.



~Begituh kira-kira percakapan kami~


Intisari yang bisa diambil kurang lebih seperti ini :


Syukuri apa yang ada

Jika kamu bersyukur, maka Tuhan akan memberi lebih

Namun, jika sebaliknya, maka Tuhan akan memurkaimu


(jadi ceramah nih~)


Mudeng maksud postingan kali ini?

Oke, ibaratnya gini aja :


Sekarang kamu berdiri di jalan aspal bukan jalan tol. Kenapa bukan jalan tol? Karena jalan tol mulus-mulus aja, monoton dong~.


Kamu berdiri di jalan aspal yang panjang. Mungkin kedepannya kamu melihat polisi tidur, lubang, genangan, pedagang asongan (eh?) yang intinya bukan jalan mulus seperti jalan tol barusan. Kamu harus jalan diatasnya. Kadang kala kamu terperosok, kepleset pas jalan. Tapi kamu bisa berdiri bahkan memperbaiki jalan lubang dan melanjutkan perjalananmu.


Tapi


Disekitar jalan aspal tempat kamu berdiri ada sawah dan lahan kosong lainnya. Mungkin kamu berfikir akan membangun jalan aspal lain diatasnya. Jalan aspal impianmu. Jalan aspal yang tanpa halangan, sesuai dengan maumu.


Kamu boleh melakukannya


Kamu boleh berpindah


Tapi sadarkah kamu? Kamu sudah diatas jalan aspal.


Belum tentu jalan yang nanti akan kamu bangun akan seperti yang kamu impikan. Tapi tidak menutup kemungkinan akan jadi seperti apa yang kamu inginkan. Sebenarnya banyak kemungkinan yang akan muncul.


Kalau tidak merasa cocok dijalan sekarang, mengapa tidak kau coba berpindah?


Sebelum itu, telitilah sejenak tentang tanda-tanda positif yang Tuhan tunjukkan.



Quotes :


Tuhan, terima kasih telah tunjukan jalan.

Tuhan, berilah lebih banyak Positive Signs setelah Positive Signs yang telah kami lalui.

Tuhan, berkahi kami di sepanjang jalan ini

~amin~


Semoga membantu \^o^/

(terutama buat kamu kamu yang mau pindah jurusan, sekolah, penjurusan, kerja bahkan kekasih)






Kamis, 07 April 2011

Bersama Mereka yang Menikmati Dunia dengan Cara Lain

Oke, sejak kecil entah kenapa aku selalu berurusan sama yang namanya orang gila. Ada yang gak gila gila amat sih, ada yang stress ringan sampe berat. Sebagai manusia baik, saya pun bercita cita menjadi seorang dokter jiwa yang baik pula. Dalam rangka meringankan beban bahkan menyembuhkan mereka mereka yang tidak bisa menikmati dunia sebagaimana mestinya, saya mantab menjadikan dokter jiwa sebagai cita cita utama saya. (dari kejauhan terdengan suara ombak yang memberi semangat *alay). Bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan, orang tua tidak merestui cita cita saya yang brillian itu. (patah hati). Okelah, aku pilih profesi yang gak jauh jauh amat dari dokter jiwa yaitu Psikolog Klinis. Hingga saat ini aku masih dalam proses penggapaian cita cita sekunder tersebut. Namun, kendala tetap ada.

Beberapa waktu yang lalu aku ikut pengajian. Dalam pengajian itu tidak boleh mengaktifkan ponsel. Dasarnya aku bandel, yaaa~ cuman fesbukan bentaaaaaaar aja. Hape aku nyalain di dalem tas, sekiranya gak keliatan. Eh, ibu ibu disampingku nyaut (mengambil paksa) hapeku T.T sambil bilang “mbak lihat hapenya”. MAMPUS! Aku ketahuan ibu ibu pengurus! Tamatlah riwayatku! Baru aja jadi anggota baru udah kena kasus hape.


Hal ganjil berikutnya terjadi


Ibu ibu itu (sebut saja namanya bunga) ngelihatin beranda fesbuk dan nanyain soal game. Mana gamenya? Aku kaget dan langsung berpersepsi itu orang gak serius. Dengan baik hati aku tunjuin permainanya plus cara mainnya. Ceramah agama masih berlangsung dan tutorial game tak kalah seru.


Lebih mengejutkan lagi temen yang duduk gak jauh dari aku bilang lirih “vic, gak usah diladeni tu orang gak waras” omongan temenku diperkuat bahasa non verbal jari telunjuk ditaruh dikepala, posisi jari miring kemudian digerakkan serong atas-bawah. GLEK! Berurusan lagi ma orang gak waras!!!!! Cepet cepet kabur dari tempat. Gak peduli ceramah masi berlangsung aku sembunyi di warung terdekat. Sama yang punya warung aku tanya tanya identitas mbak Bunga. Enak enak ngobrol (ngerasani dikit siiih) eh, mbak Bunga nyariin aku! Mati maaaaakkkkk!~ dia celingak celinguk keluar masjid. Hape ak pegang erat aku ajak kabur ke sisi lain masjid. Begitu ceramah selesai aku pulang dengan hati riang.


Sejak kejadian itu aku males bawa hape ke masjid apa lagi kalo ketemu mbak Bunga.


Sekedar informasi, ternyata mbak Bunga emang rada rada aneh. Orang awam akan menyebutnya ‘gak waras’. Ternyata, sewaktu kecil si mbak normal seperti anak anak pada umumnya hingga usia sekolah dasar terakhir mulai menunjukkan gejala keanehan. Entah karena dia jatuh atau penyebab lainnya, dia berubah jadi aneh.


Sampai sekarang.